Friday, August 19, 2016

Review Album: Strange Mountain - Language Sea



Ketika Marcel Thee pertama kali mengumumkan proyek solo Strange Mountain, saya gembira sekali. Namun cukup kaget ketika mendengar musiknya. Strange Mountain adalah proyek ambient minimalis/instrumental dari pentolan Sajama Cut ini. Beda banget dari lagu-lagu yang pernah ia rilis sebelumnya. 

Wawasan musik ayah satu anak ini memang luas. Strange Mountain adalah salah satu buktinya. Pendengar musik pop/rock seperti saya pasti mengernyitkan dahi ketika mendengar musik-musik semacam ini. Tapi lama-lama saya berpikir Strange Mountain adalah proyek paling pribadi dari Marcel Thee. Cuma di proyek ini ia bisa bebas menceritakan segala sesuatu yang terjadi di hidupnya atau di pikirannya. Tanpa batasan vokal dan lirik. Nggak heran kalo Strange Mountain sudah merilis belasan (atau mungkin puluhan?) album.  

Dan Language Sea ini mungkin karya paling personal dari Strange Mountain. Seenggaknya itu yang saya rasa (saya belum mendengar semua katalognya, dan tentu saja butuh waktu panjang). Tulisan tangan asli sang ayah yang diabadikan di sleeve kaset jadi salah satu buktinya. Di kaset ini Marcel Thee juga curhat tentang telinganya yang berdengung, namun tidak memerdulikannya karena suara sang buah hati. Sementara suara-suara di album ini menjadi pembangkit kenangan ketika kecil dulu kita diajak bapak ke pantai, berlarian kala senja terbenam. Kenangan tersebut sudah mulai buram, tak jelas karena tertimbun beragam masalah harian yang terkadang tak terlalu penting.

Language Sea dirilis oleh Lillerne Tapes pada tahun 2016. Thank you Marcel for the free copy! 

Thursday, August 18, 2016

Review Album: Saturday Night Karaoke/Aggi - Gawking Geek Music


Ada cerita unik tentang cara saya mendapatkan kaset ini. Udah lama banget saya ingin dengerin materi split dua band yang bisa dibilang cukup cult ini, tapi malah kehabisan pas mau beli. Akhirnya saya dapet kaset ini dari Anoa Records secara gratis karena saya menang kuis sahur mereka. Meski namanya kuis sahur, hadiahnya baru sampai di bulan Agustus dan Aggi serta Saturday Night Karaoke (SNK) bukanlah roster Anoa Records. Ya mungkin kasetnya memang udah jodoh sama saya. 

Anyway, kenapa saya ingin banget dengerin split ini? Karena dua band lokal ini harus kamu simak kalo kamu suka melodi-melodi manis yang diselimuti distorsi, seperti saya. Gawking Geek Music ibaratnya SNK dan Aggi disuruh milih pop atau punk. Tapi bukannya milih salah satu, mereka malah bagi rata si pop dan punk itu. Walau mungkin dosisnya beda-beda. 

Jujur, Aggi terdengar lebih pop di rilisan ini dibanding karya-karya mereka terdahulu. Namun formulasi pop ala Aggi ini pas banget ketika mengcover lagu SNK, Indie Rock 101. Jadi lebih manis dan lucu. Sedangkan Spill My Blood-nya Aggi yang dicover SNK terdengar terlalu The Ergs!, meski saya tau selalu ada serpihan The Ergs! di setiap karya SNK, namun kali ini unsurnya agak kebanyakan. Outro-nya mirip banget sama salah satu lagu The Ergs!, sayangnya saya lupa judulnya. But  overall SNK did a good job.

Memberi nama album ini Gawking Geek Music juga tepat sekali. Karena lirik-lirik cinta di album ini mungkin tak pernah terucap kepada sang terkasih yang dimaksud. Saya tidak tau apa para personel SNK dan Aggi nerd atau nggak, tapi saya bisa membayangkan kalo di realita alternatif album ini dibuat oleh seorang nerd yang diam-diam membuat musik di garasi rumah.

Album SNK/Aggi - Gawking Geek Music dirilis sama Rizkan Records di tahun 2016. 

Friday, May 1, 2015

Review Album: Bite - Mayday


Pergantian drummer dan gitaris berpengaruh banyak dalam musik Bite. Dari yang dulunya hanya power pop yang simpel, kini sound mereka lebih berisik serta berisi.

Kehadiran Andi Hans di seksi gitar bikin sound Bite lebih mengawang dan lebar. Penuh efek dan nggak bisa ketebak. Pukulan drum Febry juga terdengar sangat menggelegar di beberapa trek dan bikin musik Bite lebih impresif.

Adalah sang vokalis, Rebecca yang meredakan kebisingan (dalam artian positif tentunya) dengan vokal manis dan lirik yang cukup centil. Mayday juga makin berasa 90s setelah dirilis dalam format kaset.

Mayday dari Bite dirilis sama Nanaba Records (kasetnya) pada tahun 2015.

Thursday, April 30, 2015

Review Album: Roman Catholic Skulls - Gospels


Bos Alaium Records, Daniel Mardhany pernah bilang kalau musik Roman Catholic Skulls lebih cocok didengarkan lewat kaset. Saya setuju. Bunyi-bunyian drone/ambient kelam sepertinya memang lebih seru didengarkan lewat kaset daripada CD atau digital. Soalnya lewat kaset, aura "natural" lebih terasa.

Setelah membeli kaset ini langsung sama Daniel di tempat kerja lamanya, saya langsung mendengarkannya ketika tiba di rumah. Saat itu, tape player saya rusak dan saya mendengarkan lewat walkman yang dicolok ke speaker komputer butut. Suara-suara kelam dari kaset ini terdengar lebih dingin dan makin bikin merinding.

Selama beberapa minggu, kaset ini selalu saya dengarkan sebelum tidur. Di momen antara sadar dan nggak sadar atau hypnagogic itulah suara-suara dari kaset ini paling nikmat didengar.

Album Roman Catholic Skulls - Gospels dirilis sama Alaium Records di 2015.

Review Single: Morfem - Tersesat di Antariksa


Musik Morfem menurut saya cocok banget kalo didengarkan lewat format kaset. Bahkan saya pernah ngebujuk bos Alaium Records, Daniel buat ngerilis Morfem dalam kaset. Eh, nggak lama ternyata rilis juga kaset Morfem berjudul Tersesat di Antariksa.

Ini adalah cassingle alias cassette single pertama yang saya punya. Isinya cuma dua lagu: Tersesat di Antariksa di side A dan Kuning, lagu cover Rumahsakit di side B. Dua lagu ini pernah dibawakan Morfem secara live, dan saya pernah melihat mereka membawakannya.

Tersesat di Antariksa adalah lagu punk ala Ramones, dengan fuzz gitar berlebih dan lirik ala The Upstairs. Sekali dengar, kamu bakalan nyantol dengan reffnya. Lagu ini menurut saya akan lebih bagus kalau part akustikan di bagian akhir dibuang saja.

Kalau Kuning versi Morfem selain karena kecintaan Jimi akan lagu ini, mungkin juga bentuk kekecewaannya karena ada part lirik Kuning yang dipotong Rumahsakit di album 1+2. So, Jimi pun menyanyikan lirik itu dengan pede. Overall: single ini cukup seru.

Single Morfem - Tersesat di Antariksa dirilis sama Demajors pada tahun 2015.

Review EP: Zzuf - Personal Touch



Saya suka banget sama Weezer. Uniknya, band-band yang soundnya mirip Weezer juga saya sukai. Saya suka Ozma, Tony Molina, Ultimate Fakebook, dan The Rentals. Sampai sekarang pun saya masih suka mencari band-band yang mirip Weezer. Karena bagi saya, semua band yang mirip Weezer itu menarik and there's no such thing as "way too Weezer Blue Album-ish".

Di Indonesia siapa ya yang Weezer banget? The Adams mungkin. Dan pendatang baru bernama Zzuf. Band ini dipimpin seorang Weezerian bernama Pandu Fuzztoni.

Saat EP ini diumumkan akan dirilis pada Record Store Day dalam kaset, Personal Touch langsung jadi incaran. Nggak sia-sia beli. Soalnya sang empunya label bilang kasetnya ludes beberapa jam setelah saya beli!

Menurut saya, EP ini lagu-lagunya nggak berdurasi pendek kayak Tony Molina, tapi nggak sepanjang durasi lagu Weezer kebanyakan juga. Tapi dua band itu jelas ada di musik Zzuf. Saat mendengar Tonight saja, saya langsung ingat sama Nowhere to Go dari Tony Molina.

Tapi ada yang bikin Zzuf beda dengan para influence mereka. Zzuf lebih punk dari mereka. Maksudnya, dari cara EP ini diolah, direkam secara live, dan vokal yang sering fals, serta cover yang ngehe abis, Zzuf punk abis. Ya geek rock yang nggak geek-geek amat lah. Hehe.

Zzuf - Personal Touch dirilis sama Leeds Records pada tahun 2015.

Friday, March 22, 2013

Pesta Indie di ICEMA 2012


Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) kembali digelar. Yup, ajang yang pertama kali digelar pada 2010 silam ini menjadi sebuah wadah apresiasi untuk para pelaku skena musik indie/alternatif tanah air.

Nggak hanya sekedar indie pop/rock, banyak kategori penghargaan yang jarang kamu lihat di ajang awarding lain seperti Best Noise/Experimental Song dan Best World Music Song.

Didukungnya ICEMA oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), membuktikan bahwa musik cutting edge sudah didengar oleh pemerintah. Sehingga skena ini bukan segmented atau milik komunitas tertentu. "Walaupun tidak ada Kepres (Keputusan Presiden), Kemenparekraf akan mendukung musik cutting edge seribu persen," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, ditengah acara.

Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, ICEMA kali ini memperbarui sistem penjurian. Jika sebelumnya proses penjurian diserahkan sepenuhnya ke publik, di 2012 ini penghargaan dipilih langsung oleh dewan juri ICEMA dengan mekanisme voting tertutup. Publik masih dilibatkan dalam penjurian kategori "Most Favourite."

Malam anugerah yang digelar sejak pukul 6 sore (28/11) diramaikan dengan penampilan beberapa nominator dari berbagai genre. Mulai musik penuh distorsi dan raungan dari Seringai dan Komunal, dua sisi musik Jazz dari Sungsang Lebam Telak dan Barry Likumahuwa Project, hingga musik tradisional sunda yang disuguhkan Karinding Attack. Seru abis!

Semoga ICEMA terus diadakan secara berkala dan bisa mendorong anak muda Indonesia jadi lebih kreatif lagi. Setuju guys?

Monday, January 14, 2013

Heavy Rotation: January, Doom! Doom! Doom!

Eits, bukan, entri ini bukan tentang lagu populer idol group itu. Ini Heavy Rotation dalam artian sesungguhnya: lagu-lagu yang sedang sering diputar. Di entri ini saya mau bercerita tentang lagu-lagu yang sering saya putar di bulan Januari ini, tepatnya album sih. Entah kenapa bulan ini saya keranjingan Doom metal dan segala turunannya. Yap, langsung dimulai saja!




1. Sunn O))) - Monoliths & Dimensions
Sulit juga mau bilang album ini seperti apa, yang jelas ini metal, tapi nggak kayak metal kebanyakan. Gaung dan gema album ini begitu kuat hingga menusuk sukma (lebay), bukan sesuatu yang kamu sering dengar di dunia musik. Kalau ada yang ngaku suka Doom metal tapi nggak kenal band ini, itu pasti poser.


2. Om - Advaitic Songs dan God is Good
Nah, ini band yang menggabungkan unsur Doom/Stoner dengan Agama/Spiritual. Bukan salah satu Agama ya, tapi (hampir) semua Agama. Jangan kaget kalau di lagu Sinai intronya Labbaik Allahuma Labbaik, tapi di lagu lain Om menceritakan tentang Yahudi. Musiknya sama seperti chants Tibet dan Byzantine. Oh iya, mereka cuma terdiri dari dua orang lho, bass dan drum.


3. Earth - Hibernaculum
Ini adalah fase kedua dari musik Earth, fase pertama (90an) adalah ketika musik mereka penuh distorsi, lambat, jarang terdengar suara drum. Di fase kedua ini (2005-sekarang), Earth lebih melodius, penuh pengaruh Jazz, Psychedelic, tapi masih lambat. Asyik didengar buat kerja.


4. Boris - Heavy Rocks dan Akuma No Kuta

Sejenak kita tinggalkan keluarga 48, beri tempat untuk Boris, Heaviest-Sludgest-Shoegaziest band from Japan! Pernah kecewa gara-gara mengunduh New Album yang dirilis 2011 silam, ternyata materi-materi awal band ini jauh lebih keren.


5. Jesu - Infinity (Japanese Version)

Upaya Justin Broadrick untuk membuat lagu pop malah berujung menjadi komposisi Post-Metal berdurasi hampir 50 menit. Epik! Re-interpretasi Infinity selama 17 menit juga nggak kalah epik.


6. Satan's Satyrs - Wild Beyond Belief!


Gara-gara tulisan Arian 13, saya jadi penasaran sama band ini. Metal/Punk yang dicampur Doom dan lo-fi, bahaya!


7. The Mount Fuji Doomjazz Corporation - Egor

Nah, ini juga unik. Doom digabung dengan Jazz? Hasilnya adalah seperti suara-suara dari mimpi buruk yang tiba-tiba dibangkitkan dalam 4 komposisi. I'm scared. Terutama di akhir lagu Glass Is Destroyed yang benar-benar menyeramkan.

Nah, Januari saya doomy, bagaimana Januari kalian?

Monday, December 24, 2012

Review: Shining - Blackjazz





Pernahkah kalian berpikir dua genre yang mempunyai perbedaan yang sangat besar - seperti Jazz dan Black Metal - dicampurkan menjadi satu dan tidak menjadi sampah? Jika kalian berpikir itu tidak mungkin, anda harus mendengarkan Shining. Band black metal asal Norwegia ini menggabungkan Free Jazz dan Black Metal di album terbarunya, Blackjazz. Jika kalian berpikir mereka sinting, ya, mereka memang sinting.

Instrumentasi metal dan struktur jazz memenuhi sembilan lagu di album ini. Merekapun tanpa ragu menggunakan Saxophone, alat musik yang mungkin belum kita dengar di lagu metal apapun. Riff-riff metal mendampingi irama Saxophone sambil diikuti dentuman double pedal dan teriakan ala Norwegian Black Metal di belakangnya. Fantastis! Coba saja dengarkan pattern Jazz yang tidak terduga di "The Madness and Damage Done", solo saxophone di "Fisheye", atau intro "Exit Sun" yang akan mengecoh anda ketika pertama kali mendengarnya.

Yang saya sesalkan di album ini, ada 4 lagu berbeda yang diberi judul sama, 2 lagu sama-sama berjudul Exit Sun, dan 2 lagu lagi berjudul "The Madness and the Damage Done." Entah mengapa mereka seperti kehilangan ide untuk memberi judul lain.

Jadi album Blackjazz ini ibaratnya adalah sekelompok musisi Jazz yang tersesat di Oslo, dan terpaksa memainkan Black Metal (ala mereka tentunya) di sebuah klub untuk mendapatkan uang.

Shining adalah musisi yang kreatif, unik, dan mempunyai skill mumpuni. Dunia tidak membutuhkan lagi band-band black metal semacam Dimmu Borgir atau Burzum. Dunia butuh sesuatu yang baru dari black metal, seperti Shining ini.


Pertama kali dipublikasikan di Gudang Musik Keras

Tuesday, October 30, 2012

Interview: Daniel Mardhany of DeadSquad



Wawancara dengan Daniel Mardhany, vokalis band Technical Death Metal asal Jakarta, DeadSquad, di backstage Hai Day 2012. Teks dan foto: Alvin Bahar . Pertama kali diposkan di Hai-Online.

Gimana pendapat lo mengenai Hai Day Honda Brio 2012?
Seru, rame banget. Nggak nyangka juga bakal se-rame ini. Band yang diundang juga variatif, mewakili anak muda banget deh.
Jadi Hai Day perlu diadain lagi nggak?
Perlu, kayaknya setahun sekali harus ada Hai Day. Banyak band yang belum tampil di Hai Day!
Menurut lo, apakah Hai masih mewakili generasi muda?
Masih, meskipun menurut gue dulu sempat nggak mewakili. Tapi sekarang Hai udah mewakili suara generasi muda lagi.
Tawuran sempat terjadi lagi di generasi muda, menurut lo gimana sih supaya generasi muda nggak tawuran lagi?
Tawuran itu nggak penting banget, mendingan anak muda yang suka tawuran, bikin band dengan musik keras aja. Supaya kemarahan dan adrenalinnya tersalurkan.
Emangnya lo pas muda ngapain aja sih?
Duit gue pas SMA abis buat beli kaset, hahaha. Dulu gue juga sempat ngejar konser Pure Saturday! Meski konsernya nggak begitu bagus waktu itu, tapi rasa penasaran gue ngalahin segalanya, maklum deh anak mudah, Hehehe...
Ada nggak pengaruh Hai di masa muda lo?
Waktu SMP gue kenal band-band metal semacam Slipknot dari Hai, banyak juga band punk yang gue kenal dari Hai. Hai juga sering bantu DeadSquad!
Jadi, DeadSquad sekarang lagi sibuk apa aja?
Manggung. Ini gue udah 5 hari nggak pulang, kita abis dari Bali dll. Kita juga lagi sibuk bikin album baru, udah 40% kelar nih.

Sunday, October 21, 2012

Review: Dirty Rotten LP dari D.R.I.



D.R.I adalah salah satu band thrash metal/crossover thrash yang paling penting abad ini. Tidak diragukan lagi, karena sejak debut albumnya (yaitu album ini) mereka sudah membuktikan diri bahwa mereka memang layak dipuja para penyuka musik keras. Album ini adalah "piagam pertemanan" antara musik hardcore dengan thrash metal. Jika bisa dua, kenapa hanya satu? mungkin hal inilah yang terpikirkan saat D.R.I. merekam album ini.

Adrenalin, kecepatan, energi, dan amarah adalah empat hal yang dapat saya simpulkan dari album ini. Lagu-lagu yang berdurasi tidak lebih dari satu menit (hanya ada 5 lagu yang berdurasi lebih dari semenit), riff gitar yang simpel dan tanpa basa-basi, drum yang sangat cepat ala metal, dan lirik bernuansa politik dan kehidupan sosial yang dinyanyikan dengan penuh amarah oleh Kurt Brecht menyempurnakan album ini.
Suara yang dihasilkan sangat kotor dan kasar, namun itu tidak mengurangi kenikmatan mendengar album ini. Menurut saya sound kotor dan kasar sudah cocok. Penyuka oldskool hardcore punk pasti mempunyai rasa yang sama.

Jangan lupakan artwork album ini: tengkorak dengan senapan dan seragam tentara, masuk ke sebuah kamar dengan pintu yang rusak dan latar belakang api peperangan. Seakan-akan ia datang ke kamarmu dan berteriak: "mari berperang!".

 Terakhir, ini adalah salah satu album tercepat yang pernah saya dengar. Sebuah masterpiece klasik hardcore/thrash metal yang sangat layak untuk dikoleksi jika kamu penggemar punk, metal, dan hardcore. Jangan lupakan juga penampilan mereka di Hammersonic festival 28 April mendatang!

Pertama kali diposkan di Hai-Online

Thursday, October 18, 2012

Interview With Kurt Brecht From D.R.I.


Salah satu interview musisi luar pertama saya sebagai jurnalis. Wawancara berlangsung saat D.R.I tampil di Hammersonic fest, 28 April 2012 lalu.

Ini show pertama lo di Indonesia, apa pendapat lo tentang fans D.R.I. disini?
Sangat liar dan keren. Gila aja, mereka disini seharian nungguin band-band metal favorit mereka nggak ada capeknya. Gue nggak nyangka acara metal bisa sebesar ini di Indonesia.
Selama disini, lo udah nyobain masakan Indonesia?
Yeah, selama di hotel kita makan makanan Indonesia.  Spicy banget.
Apa pendapat lo mengenai lalu lintas di Jakarta?
Horrible banget. Kalo gue tinggal disini, gue kemana-mana naik helicopter kali.
Berapa lagu yang D.R.I. mainkan malam ini?
20 lagu.
Apakah ada kemungkinan D.R.I. untuk kembali lagi kesini?
Gue kepengen banget. Fans kami disini keren semua.
Apa D.R.I. akan merilis album baru?
Gue nggak yakin. D.R.I. sedang sibuk 30th anniversary tour. Besok kita show di Malaysia dan besoknya lagi di Bangkok, Thailand. Belum yang di negara-negara lain.
Apa pendapat lo tentang Hammersonic?
It’s really great. Terorganisasi sangat baik, sound-nya juga bagus, band-bandnya keren, orang-orangnya juga baik.
Bagaimana dengan band-band metal Indonesia?
Yeah, beberapa dari mereka bagus. Gue suka sama yang vokalisnya cewek tadi (Dreamer). Sama yang lagi main sekarang, Burgerkill.


Pertama kali ditampilkan di Hai

Aku Bisa Diselamatkan



Kalo dibandingkan dengan pernak-pernik Koil yang dimiliki fans-fans Koil lain yang pernah saya baca di Lorong Zine terdahulu, bisa dibilang ‘keimanan’ saya kepada Koil masih belum ada apa-apanya. Saya Cuma punya satu Kaos dan satu CD yang sudah dilegalisir sama Otong Koil plus satu foto bersama Otong. Show Koil pun banyak yang saya lewatkan. Bahkan konser tunggalnya, juga saya lewatkan.
Tapi saya punya hal yang lebih penting yang diberikan oleh Koil kepada saya, yang mungkin tidak semua Koil Killer mendapatkannya. Koil merubah pola pikir saya. Saya dulunya adalah orang yang suka protes, suka komplain , waktu SMA pernah demo, kuliah (hampir) buat demo doang, suka ngatain band-band kayak kangen band, dll. Untungnya saya mulai aktif dengerin Koil sejak kelas 3 SMA (sebenernya udah denger sejak 2003, tapi belum ngefans). Kuliah saya jadi serius deh.. karena Koil mengajarkan saya untuk survive, bukan protes.
Buat apa kita protes kalo ga ada hasilnya? Mendingan kita belajar untuk menyelamatkan diri sendiri. Daripada protes tapi ga selamat? Begitulah kira-kira kalimat yang Koil ajarkan kepada saya. Lagian kalo protes cape, bikin gondok, cepet tua. Ya kan?
Selain itu Koil, terutama  Otong, juga ngajarin saya buat menghargai karya orang lain. Sebelumnya, saya Cuma suka musik metal-metal/rock gitu deh.. ngeliat ST12 & Ungu di TV, saya marah trus ngehina-hina mereka di Facebook, join grup anti band melayu, dll. Saya juga sempet kesel pas liat Koil kolaborasi sama Ahmad Dhani.
Tapi setelah baca “khotbah-khotbah” Otong di twitter, saya jadi sadar. Musik itu kayak makanan favorit, kalo kita suka jengkol tapi temen kita suka pete, apakah kita harus maksa temen kita tersebut untuk makan jengkol? Nggak kan? Lagipula, buat apalah kita menghina-hina band-band mainstream. Emangnya kita siapa?
Gara-gara si Otong pula saya jadi dengerin A-Ha. Sebelumnya saya anti sama musik-musik new-romantic kayak gitu, hahaha. Ya, anak-anak Koil itu meskipun di twitter bahasanya  suka aneh-aneh tapi kalo dicermati ada benernya juga.
Hmm.. apalagi ya? Wah sebenernya masih banyak sih yang bisa diceritakan tentang saya dan Koil ini. Tapi daripada menuh-menuhin halaman dan yang baca bosen.. udah segini dulu aja yah.

Ingat, kita dapat diselamatkan.

Dari Lorong #5

Netlabel: Solusi Musik Gratis, Berkualitas, dan Legal


Jika anda ditanya oleh orang asing bagaimana kondisi musik di Indonesia, apa jawaban anda? Kalau pertanyaan itu diajukan ke saya, saya akan menjawab musik Indonesia yang digemari masyarakat banyak itu ya seperti Kangen Band atau ST12, artis-artis sudah sulit menjual CD karena masyarakat lebih suka berlangganan lagu berdurasi 30 detik yang bernama RBT/NSP (atau mungkin karena harga CD mahal?), mendownload lagu atau album secara ilegal di internet yang ada banyak sekali jumlahnya, membeli album bajakan di lapak bajakan - yang ironisnya seperti dibiarkan saja oleh negara, atau mungkin meminjam CD teman lalu digandakan atau direkam ulang - itupun jika masih ada yang melakukannya - yang seakan-akan sudah menjadi “tradisi turun menurun”.

Lalu apakah ada solusi untuk masalah-masalah yang disebutkan diatas? Jawabannya tentu saja ada. Netlabel (ada juga yang menyabut online label, web label, MP3 label, atau download label) adalah solusinya. Netlabel adalah label rekaman yang mendistribusikan musiknya melalui format audio digital melalui internet. Sekarang sudah banyak bermunculan netlabel-netlabel lokal yang merilis album, EP, atau singel secara legal dan gratis seperti Yes No Wave Music, Inmyroom Records, Hujan! Rekords, Stone Age Records dan semacamnya. Genre yang ditawarkan pun bervariasi. Hampir semua jenis musik tersedia di netlabel-netlabel diatas.
Meskipun sebenarnya Tsefula/Tsefuelha Records, self-released label dari band Shorthand Phonetics berdiri pada tahun 2004, fenomena ini baru muncul pada tahun 2007 oleh Yes No Wave Music, sebuah netlabel dari Jogjakarta dan salah satu pelopor netlabel di Indonesia.

Sudah sepantasnya netlabel dan rilisan-rilisannya berkembang di Indonesia. Penjualan CD yang menurun drastis, akses jaringan internet yang sudah meluas ke berbagai daerah di Indonesia,  seringnya masyarakat mendownload musik ilegal di internet, dan fenomena NSP/RBT - yang justru merusak suatu karya seni - adalah beberapa alasannya.

Di netlabel-netlabel lokal ini anda bebas mendownload musik yang tersedia tanpa dipungut bayaran dan tentunya semuanya legal. Mungkin diantara anda ada yang berpikir “ah lagunya gratisan semua, paling cuma artis-artis kacangan, yang musiknya jelek, yang ngga daper label yang dirilis disitu”. Kata siapa? White Shoes and the Couples Company, Sajama Cut, Bottlesmoker, Frau, dan The Upstairs pernah merilis karyanya di netlabel. Redtheplaneet!!!, trio elektronik asal Belanda pun pernah merilis EP-nya di Yes No Wave.

Atau mungkin anda anti musik berformat digital? anda seorang kolektor CD? atau mungkin anda lebih sering mendengarkan musik di mobil atau CD player? Tenang, rilisan-rilisan netlabel ini rata-rata memiliki CD cover didalamnya. Jadi anda tinggal burn cd, print, potong, lipat, tempel, pamerkan ke teman dan keluarga. Bisa jadi sebuah koleksi yang menarik, dan melestarikan budaya do-it-yourself.

Di awal tahun 2011 ini, 5 netlabel lokal (Yes No Wave Music, Inmyroom Records, Stone Age Records, Hujan! Rekords, dan Mindblasting) bersatu untuk mengkampanyekan netlabel dengan merilis 5 kompilasi yang bisa didownload di situs netlabel masing-masing. Oh iya, FYI Mindblasting adalah netlabel asal Jember, Jawa Timur. Membuktikan bahwa netlabel sudah bisa masuk secara luas ke daerah-daerah di Indonesia.
Jadi, masih mau mengunduh musik secara ilegal?

Pertama kali diposkan di Kompasiana pada Maret 2011.